Jumat, 28 Juni 2013

Terjebak Safety Belt

Terjebak Safety Belt
Oleh: Syarifah Nihlah Yahya

     Pukul 06.00 jam weker di meja Refa bernyanyi riang. Gerimis menyambut datangnya pagi hari ini. Refa membuka matanya perlahan. Udara dingin semakin membuatnya betah berlama-lama di kasurnya. Untuk sejenak Refa tersentak. Ia baru ingat bahwa hari ini ia akan pergi ke Makassar untuk melepas rindu kepada kedua orangtuanya. Hal ini karena Refa tinggal berjauhan dengan mereka.


         Semua bermula ketika Refa lulus dari Sekolah Dasar ingin merasakan kehidupan yang lebih mandiri. Tak terasa, dua tahun sudah Refa tinggal bersama tantenya di Balikpapan. Ia tidak dapat merasakan hangatnya pelukan kedua orangtuanya yang jauh di Makassar. Ketika mengetahui tantenya memberi hadiah tiket untuk pulang, ia girang bukan kepalang.



  Dengan semangat yang menggebu-gebu, ia segera bersiap untuk penerbangan pukul 12.00 WITA. Setelah yakin bahwa penampilannya sudah siap, ia menemui tante Lia untuk sarapan bersama.

   “Pagi, Tante…” sapa Refa riang.
   “Pagi, Ref. Hari ini kamu semangat banget kayaknya” kata tante Lia menggoda keponakannya.
   “Iya dong, Tan. Hari ini kan aku mau liburan ke rumah. Ke tempat Ibu sama Ayah. Kangeeen banget rasanya” jawab Refa semangat.
   “Iya…iya…. tante tau. Tapi, kamu yakin bisa pergi sendiri? Kamu kan baru sekali ini naik pesawat terbang” tante Lia ragu-ragu.
   “Bisa…bisa…. Kalo ada apa-apa kan tinggal nanya sama kakak pramugari” Refa meyakinkan tantenya.
   “Ya sudah. Sekarang kamu sarapan dulu. Habis itu, periksain lagi barang-barana yang mau kamu bawa biar nggak ada yang ketinggalan” ujar tante Lia.

       Refa dan tante Lia sarapan bersama. Tante Lia senang melihat Refa makan dengan lahap. Usai makan, Refa kembali mengecek barang-barang, tiket dan kelengkapan lainnya. Ketika ingin memasukkan tiket ke dalam tasnya, handphone-nya berbunyi. Refa memasukkan tiketnya dan melihat layar handphone-nya. Refa melihat wajah ayahnya sedang tersenyum disana.

   “Halo, Yah?” jawab Refa.
   “Gimana, Ref? Kamu udah siap berangkat?” tanya ayah Refa.
  “Belum, Yah. Bandara kan dekat disini. Jadi Refa perginya jam setengah dua belas. Penerbangannya kan jam dua belas?” jawab Refa dengan riang.
 “Kamu udah periksa barang-barang kamu? Kamu yakin nggak ada yang ketinggalan?”
   “Udah, kok. Refa tinggal nungguin waktu, berangkat deeh. Ayah jemputin Refa kan di bandara?” tanya Refa.
  “Ayah lagi di kantor. Sibuk, ada meeting penting hari ini” jawab ayahnya dengan nada meminta maaf.
    “Ayolah, Yah. Refa siapa yang jemputin kalo bukan Ayah? Mang Didin? Nggak mauuu” ujar Refa manja.
   “Yasudah, nanti Ayah usahain. Mungkin sedikit terlambat” jawab ayah Refa pasrah.
    “Asyiiik. Gitu dong, Yah” jawab Refa sambil melompat-lompat kegirangan.
   “Ya sudah. Ayah mau kerja lagi. Kamu hati-hati. Kalo ada apa-apa nanya aja sama pramugarinya” saran ayah Refa.
    “Sip, siap deh boss” ujar Refa semangat.

* * *

       Refa menatap jarum jam yang tetap menunjukkan pukul 08.00. Masih terlalu pagi untuk ke bandara dengan penerbangan pukul 12.00. Apalagi, antara bandara dan rumahnya dapat di tempuh kurang dari 10 menit. Refa bingung akan melakukan apa. Akhirnya, ia memutuskan untuk menonton televisi. Karena Refa gemar memasak, maka ia mencari channel yang menayangkan acara seputar masakan.

       Meski matanya tertuju pada televisi, hati  dan fikiran Refa menuju ke arah yang lain. Ia membayangkan hal apa saja yang akan dia lakukan setelah tiba di Makassar. Selain itu, ia akan naik pesawat terbang untuk yang pertama kalinya. Ia sangat senang karena akan melewati pengalaman pertamanya itu sendirian.

        Awalnya, tante Lia ingin menemani Refa untuk bertemu orangtuanya. Sudah lama juga ia tidak bertemu Ibu Refa yang tak lain adalah kakak kandungnya. Akan tetapi, dua hari sebelum keberangkatan Refa tante Lia di telepon oleh sekretarisnya. Sekretarisnya bilang akan ada meeting dengan client yang tak dapat di undur pada jam makan siang yang artinya pukul 12.00 tepat. Alhasil, tante Lia tidak dapat menemani Refa ke Makassar.

      Pikiran Refa kembali melayang ke Makassar. Setiap kali mendengar kata Makassar, matanya seolah melihat wajah ayah, ibu, kakak, adik, keluarga, sahabat, serta teman-temannya. Setiap kali mendengar kata Makassar, ia teringat hangatnya pelukan orangtua dan candaan setelah makan malam. Kenangan ketika ia jatuh dari sepeda saat membela club-nya melawan club anak komplek sebelah. Atau kenangan saat ia bermain petak umpet bersama teman-temannya.

      Kemudian ia teringat dengan temannya yang cukup menarik hatinya. Namanya Adnan. Ia bertanya-tanya dalam hati. Apakah Adnan masih tinggal di Makassar? Apakah Adnan masih mengenalinya? Tiba-tiba kenangan bermain bersama Adnan melintas di fikiran Refa. Membuatnya senyam-senyum sendiri. Saking asyiknya melamun, Refa tidak menyadari bahwa tante Lia memperhatikannya dengan tatapan bingung.

   “Ref…kamu lagi ngaapain sih?” tanya tante Lia yang cukup membuat Refa yang sedang berlamun-lamun ria  terloncat kaget.
  “Eh…tante Lia. Bikin kaget Refa aja deh…” ucap Refa sambil mencoba menenangkan jantungnya dengan mengelus dada.
    “Habis kamu ngelamun sambil cengar-cengir. Bikin tante takut. Tak kirain kamu kesurupan” ujar tante Lia heran.
  “Hahahahahahah…. Tante bisa aja. Refa emang lagi kesurupan” Refa menggantung kalimatnya.
     “Kesurupan pengin cepet ke Makassar” sambungnya setelah beberapa detik.
  “Usil banget ya…. Ngelamunin apaan sih? Kayaknya seru banget sampe ketawa-ketiwi sendiri” tante Lia penasaran.
  “Ade deeeh, mau tauuu ajahhh” jawab Refa disertai wajah yang dibuat menggemaskan dan semakin membuat tantenya geregetan.
    “Dasar kamu yah. Ada acara apa di televisi?”
   “Ini nih lagi nonton masak-masakan. Tapi udah abis kayaknya. Tante Lia nggak ke kantor? Kan ada meeting?”
   “Iya, nih tante baru mau ganti baju. Kamu ntar naik taksi aja ke bandaranya. Abis tu….”
   “Nemuin satpam di bandara minta tunjukin ke arah mana Refa harus pergi” potong Refa.
     “Siip deh. Tante pergi dulu ya. Hati-hati loh…”
     “OK, Tan. Thanks ya. Sukses buat tante” kata Refa sambil memeluk tantenya.

      Setelah tante Lia pergi, Refa kembali menonton. Kali ini ia menyetel film kartun. Akan tetapi, tetap saja fikirannya melayang ke Makassar.

* * *

       Setelah menunggu selama beberapa jam, akhirnya Refa menelepon taksi untuk mengantarnya ke Bandara Sepinggan, Balikpapan. Tak perlu waktu yang lama, ia sudah berada di dalam taksi. Perjalanan ke bandara yang singkat terasa sangat lama bagi Refa. Refa sudah tidak sabar untuk segera bertemu ayahnya. Ia juga mengirim SMS ke ayahnya, memberitahu bahwa ia telah menuju bandara.

        Pukul 11.15 Refa telah berada di ruang tunggu bandara. Sejauh ini, Refa di bantu oleh pramugari Lion Air, pesawat yang akan ditumpangi Refa. Refa menunggu sambil memainkan handphone-nya. Tak terasa, sebentar lagi Refa akan berangkat.

   “Dek, ntar lagi pesawatnya siap. Adek tinggal nunjukin tiket ke petugas, nanti langsung di tunjukin pesawatnya. Kakak tinggal bisa, kan? Kalo ada apa-apa, tanya aja sama pramugari atau di informasi” jelas pramugari itu ramah.
    “Iya, kak. Bisa. Makasih, ya kak” jawab Refa sopan.
    “Iya, Dek. Sama-sama”

* * *

       Tak lama kemudian Refa sudah berada di dalam pesawat. Ia mencari-cari kursi yang sesuai dengan tiketnya.

       Refa berhasil menemukan kursinya. Ia berhenti dan duduk di tengah. Refa memperhatikan orang di kanan dan kiri kursinya. Sebelah kanannya ialah seorang pemuda yang sebaya yang memakai headphone dengan wajah setengah tertutup topi. Sedikit misterius. Berbeda di sebelah kirinya. Ia adalah seorang pemuda berkaca mata tebal yang sedari tadi sibuk dengan buku tebal di hadapannya.

  Refa berhenti memperhatikan mereka ketika seorang pramugari memperagakan kesiapan penumpang. Refa memperhatikan cara memakai safety belt. Refa mengikuti instruksi pramugari itu. Saat ia akan melihat cara membukanya, tiba-tiba seorang penumpang di depannya berdiri dan menutupi pramugari itu. Ketika orang itu duduk kembali, pramugari itu telah selesai melakukan tugasnya. Pesawat pun segera lepas landas menuju Bandara Hasanuddin, Makassar.

       Ketika pesawat telah stabil, Refa berniat ke toilet. Namun seketika itu juga, Refa panik bukan kepalang. Ia tidak dapat melepaskan safety belt-nya. Ia mencari-cari pramugari yang bisa membantunya, nampaknya semua pramugari sibuk dengan tugasnya masing-masing. Lagi pula, dengan kondisi terikat safety belt dan duduk di tengah, Refa tak dapat melihat ke depan ataupun ke belakang. Tak mungkin juga Refa meminta tolong pada kedua orang yang sibuk dengan privacy mereka masing-masing. Akhirnya, Refa pasrah. Ia menahan sambil berdo’a agar tidak pipis di celana.

        Refa memutuskan untuk membaca majalah yang disediakan pihak maskapai dengan gusar menahan pipis. Tak mungkin pramugari akan lewat. Mereka telah mengantarkan snack dan menawarkan souvenir sebelum Refa sadar bahwa ia tak dapat membuka safety belt-nya. Perjalanan yang harusnya ia nikmati malah ia lewati dengan kesengsaraan menahan pipis.

         Refa seakan mendapat pertolongan Dewi Fortuna ketika seorang pramugari mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat. Hampir 1 jam sudah ia menahan pipis. Ia berharap pesawat segera mendarat dan ia akan segera bebas dari kekangan safety belt yang membuatnya menderita.

        Refa tak menyangka proses landing semakin membuat jantungnya seakan ingin copot. Betapa tidak, dalam kondisi menahan pipis, ia harus menerima kenyataan bahwa landing menciptakan guncangan yang semakin membuat masalah Refa berbelit-belit. Akhirnya, Refa memutuskan untuk menutup matanya untuk mengurangi rasa takutnya. Ketika ia membukanya, pesawat telah mendarat dan sedang memosisikan diri.

         Refa melihat si misterius dan kutu buku telah melepaskan safety belt-nya.

        Sejak kapan mereka melepasnya? Kalo aja tadi aku nggak tutup mata, pasti aku liat cara bukanya. Aaaakh…bodohnya aku. Sekarang gimana nihhh?

       Refa semakin kebingungan. Dengan menelan ludah, ia memonta bantuan ke orang misterius di sebelahnya.

   “Mmm…Mas…Mas…bb…bo…boleh minta ttt…to…tolong nggak?” tanya Refa terbata-bata karena takut.

        Laki-laki itu menoleh ke arah Refa.

   “LOOOH!? KAAMUUUU!?” ujar merka hampir bersamaan dan setengah histeris.

       Penumpang pesawat di sekitar mereka menoleh ke arah mereka berdua, bahkan kutu buku yang sejak tadi serius berkutat dengan bukunya tanpa menoleh pun ikut kaget dan menatap mereka. Mereka tertunduk malu.

        Refa sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang sejak tadi dia anggap misterius, dalam sedetik berubah menjadi Tio, teman sebangkunya di sekolah. Refa masih shock, tapi ia segera teringat akan tujuannya tadi. Ia masih tersiksa dengan kekangan safety belt-nya.

   “Aduuuuh…kalo tau yang duduk disini itu kamu, aku udah nanya dari tadi” ujar Refa setengah menyesal.
  “Kamu gimana sih? Temen sebangku sendiri nggak ngenalin? Jahat banget!” kata Tio kecewa.
  “Aduuuh, itu nanti aja deh ceritanya. Sekarang, aku mau minta tolong, tapi jangan di ketawain” kata Refa memohon.
   “Iya…iya… Apa?” tanya Tio memandang Refa bingung.

       Refa takut Tio akan menertawakannya. Namun, tak ada pilihan lain. Ia sudah benar-benar tak tahan lagi.

   “Bukain safety belt aku doong. Aku nggak ngerti” kata Refa setengah berbisik.
  “Ya ampuuun. Aku kirain apaan. Sini cepetan, orang-orang udah pada mau turun noh” kata Tio sambil menggerakkan dagunya mengarah ke penumpang lain yang telah mengantri di lorong pesawat.

      Akhirnya, Refa terbebas dari safety beltnya. Ia ingin segera ke toilet, namun cobaan kembali datang. Lorong pesawat penuh dengan penumpang yang ingin turun. Akhirnya, ia mengantri bersama Tio sambil mengobrol bersama.

   “Kamu aneh banget sih, temen sebangku sendiri nggak tau?” tanya Tio masih kesal dengan sikap Refa.
“Bukannya gitu, dari aku duduk sampai pesawat ni berenti nggak ngeliat muka kamu. Lagian kamu ngapain sih dandan kayak orang misterius gitu? Aku sampe nggak ngenalin. Kamu juga nggak negur aku” Refa memutar balikkan fakta.
“Aku lagi ngantuk, jadi aku nutupin muka pake topi” Tio membela diri.
“Kamu tau gak sih, aku tuh daritadi pengen ke toilet. Tapi gara-gara safety belt tu gak jadi-jadi deh. Huuuftt, nyesel tadi gak nanya dulu” Refa mengakui.
“Malu betanya, terjebak di safety belt” sindir Tio.
“Iyah, iyah” kata Refa sedikit sinis.

Mereka berdua berhasil keluar dari pesawat. Refa langsung menuju toilet terdekat. Ia meminta Tio untuk menunggunya. Refa sangat lega setelah keluar dari toilet. Ia dan Tio menuju pegambilan bagasi sambil terus mengobrol bersama.

“Kamu mau ngapain ke Makassar?” tanya Refa sambil mengirim pesan ke ayahnya.
“Jalan-jalan aja. Ada keluarga aku yang jemputin” jawab Tyo sambil mengambil kopernya. Aku cuma bawa 1 koper. Kamu, Ref?” lanjut Tyo.
“Aku juga udah kok. Kamu siapa yang jemput?” tanya Refa sambil mengikuti Tyo berjalan ke pintu kedatangan.
“Aku di jemputin keluarga aku” jawab Tyo.
“Ya udah, ntar kalo kamu mau jalan-jalan di Makassar telepon aku aja. Ntar aku ajakin kamu keliling deeh. Asal di traktir makaan” tawar Refa.
“Ujungnya nggak enak tuh” jawabnya dengan wajah memelas.
“Hahahaha…..” Refa dan Tyo tertawa bersama.

Ketika sampai pintu keluar, Tyo disambut oleh keluarganya. Tyo pun pamit pada Refa untuk pulang diluan.

“Aku diluan ya, see you” kata Tyo singkat.
“Okeh. Bye” jawab Refa.

Refa membaca pesan singkat dari ayahnya yang mengatakan bahwa ia masih di perjalanan menuju bandara. Akhirnya, Refa menunggu sendirian.

Sambil menunggu, Refa merenungkan kembali kejadian safety belt tadi. Refa jadi tertawa sendiri membayangkannya kembali. Sangat memalukan. Refa tak akan melupakan kejadian hari ini. Seperti kata Tyo “Malu bertanya, terjebak di safety belt”.

* * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar