Rei dan Syafa
Oleh: Syarifah Nihlah Yahya
“Reeii....Reeii....Reeii....” Aan, Adnan, dan
Afdal memanggilku dan menyuruhku untuk segera bergegas.
“Bentar ya, Dek. Tante panggilin Reinya. Reiii....Teman kamu udah datang
tuh. Cepet pergi sana. Telat loh nanti” kata ibuku menjawab sahutan
teman-temanku.
Aku memang sering berangkat sekolah bersama teman-temanku. Biasanya
kami jalan kaki menuju sekolah. Namun jika waktu tak memungkinkan untuk jalan
kaki, kami biasanya memanfaatkan fasilitas angkot.
“Iya, Bu. Ini udah mau selesai kok” kataku sambil
menyisir rambut cepakku.
“Anak ibu ini…. Sudah ganteng, cepet pergi sana.
Kasian teman-teman kamu nungguin” kata ibu gemas dan mendorongku untuk segera
beranjak dari cermin.
“Pasti dong, Bu. Kan ibunya juga cantik” gombalku,
aku pasrah ditarik oleh ibu untuk keluar dari kamar.
“Bissa aja yah” kata ibuku tersipu malu.
Rei Harfi, itulah namaku. Aku terlahir dari keluarga menengah keatas. Ayahku
pemilik sebuah perusahaan meubel di Makassar. Ibuku juga bekerja sebagai weeding organizer.
Aku anak tunggal, tak heran ayah dan ibuku sangat menyayangiku.
Menjadi anak tunggal cukup membosankan bagiku. Kamu takkan bisa bercerita
mengenai harimu kecuali hanya kepada kedua orangtuamu. Kamu takkan bisa bermain
tanpa harus meninggalkan rumah. Namun, kamu seakan menjadi harta yang paling
berharga bagi kedua orangtuamu.
“Rei pergi dulu ya, Bu, Pak. Assalamualaikum”
kataku setelah mencium tangan kedua orangtuaku.
“Ya, waalaikum salam hati-hati di jalan” jawab
ibuku.
“Belajar yang rajin!” ayahku menambahkan.
Dengan riang aku menghampiri teman-temanku yang telah menunggu. Karena
waktu masih memungkinkan, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju SMP Negeri
2 Makassar yang tak jauh dari Kompleks Perumahan sembari membicarakan banyak
hal.
“Hari ini pelajaran Agama Islam loh. Oya, kita bakalan
di tes baca Qur’an lengkap dengan tajwidnya” Aan temanku yang gendut membuka
topik.
“Oh, iyya” ujar kami hampir bersamaan.
“Tumben kamu lupa, Rei? Biasanya kamu yang paling
pinter diantara kita semua” tanya Adnan bingung.
“Kalo tajwid Qur’an aku nggak terlalu bisa.
Kalian gimana?” ujarku lemas.
“Kamu gimana sih, Rei? Kita kan ikut pengajian di
komplek rumah. Aku, Aan, ama Afdal ikut kok” ujar Adnan.
“Iya…” sahut yang lain menyetujui Adnan.
“Gimana kalo kamu ikutan kita ngaji disana?”
tanya Adnan.
“Iya ikut ajaaa…. Oya, disana juga ada cewek
maniiis banget” kata Afdal memancing kami.
“Itu kamu aja kaliii…” kata Aan sebal.
“Sudah, sudah. Jadi gimana, Rei? Kamu ikut,
nggak?” Adnan kembali mengulang pertanyaannya.
“Liat nanti deh, aku nanya ibuku dulu” jawabku
pasti.
“Ya udah, pengajiannya mulai abis sholat maghrib
sampe selese. Kita sih biasanya berangkat bareng. Kalo kamu mau ikut, SMS aja.
Ntar kamu ke rumah aku aja. Kita ngajinya di rumah ustadznya” jelas Adnan
panjang lebar.
“Siip dehhh. Thanks, yo” jawabku senang.
Tak terasa, kami sudah sampai di sekolah.
Selangkah setelah memasuki pagar sekolah, bel
tanda pelajaran akan segera dimulai pun bernyanyi riang. Aku dan
teman-temanku segera berlari menuju kelas.
* * *
Hari ini kami pulang dengan lemas. Di tangan, kami memegang kertas
ujian lisan dengan hasil yang membara.
“Payah nih, punya aku D+” kataku putus asa.
“Mendingan D+, aku E” sahut Afdal menyemangati.
“Sudah, sudah, tetap aja nilai Rei yang paling
tinggi diantara kita” tambah Adnan yang mendapat nilai D.
“Iya, untung Bu Thya mau ngasih remedi” Aan
menyetujui.
“Kayaknya aku bakalan ikutan ngaji bareng kalian
deh” sahutku kemudian.
“Diluan, guys. Nanti sore kita lanjut lagi” kata
Adnan sbelum masuk ke rumahnya.
“Yo’a…” sahutku berbarengan dengan Afdal dan Aan.
Tak lama kemudian, aku sudah berada di kamar dengan seragam yang sudah
berganti menjadi celana pendek dan kaos you
can see. Aku menuju meja makan dengan langkah gontai. Aku masih geregetan
dengan tes agama tadi. Ayah dan ibuku tak ada di rumah. Biasanya mereka pulang
setelah aku berada di alam mimpi.
Gimana nih? Tesnya tiga hari lagi. Berarti aku
harus belajar mulai hari ini, dong. But, how about my parents? Ya
udah deh, ngomongnya besok aja.
Akhirnya aku makan sambil melamun. Baru kali ini aku gagal dalam tes.
Dan tes itu adalah Agama? Memalukan.
* * *
Sore hari ini kami berkumpul di lapangan bola kompleks. Bukan untuk
bermain bola atau layangan, hari ini kami akan membahas nilai “api” kami. Lagi
pula, rumah ustadz itu berada di dekat lapangan tempat kami nongkrong saat ini.
“Itu tempatnya? TPA apa namanya?” tanya ku dengan
bingung. Sebab, tak ada tanda-tanda perguruan seperti TPA (Taman Pendidikan
Al-Qur’an) pada umumnya.
“Iya, itu cuma pengajian biasa. Kamu kenal Fikri,
kan? Dia murid pertama disana. Mamanya kenal sama ustadznya. Akhirnya,
pengajian itu terkenal dari mulut ke mulut. Sampai akhirnya ayahku juga
daftarin aku disana” jelas Aan panjang lebar.
“Syaratnya gampang aja, kok. Kita tinggal datang
bareng ortu kita” Adnan menambahkan.
“Disana ada juga murid ceweknya. Ada satu cewek nih yang ngaji disitu.
Beeeh….udah cantik, pinter, putih. Kurang apa lagi, coba?” tambah Afdal nggak
nyambung.
Aku manggut-manggut mendengar cerita teman-temanku. Kecuali omongan
Afdal, aku tak begitu tertarik.
Seru juga TPA itu. Sepertinya aku bisa belajar
disana.
“Ya udah. Tapi ibu sama ayahku nggak ada di
rumah. Gimana dong jadi?” tanyaku.
“Gampaaang. Kan bisa minta tolong sama ibuku?”
saran Adnan.
“Jadi, kamu kita jemput atau gimana, nih?” tanya
Aan semangat.
“Gini aja deh, karena ibu aku ikut, kalian aku
tunggu di rumah aku aja. Abis maghriblah. Baru kita bareng ibuku kesana.
Gimana?” kata Adnan dengan gaya khasnya yang bijak.
“Setujuuu….” ujar kami semangat.
“Jadi, masalah kita udah beres. Maen bola, yok.…”
ajak Afdal.
“Let’s goo.…” aku menyetujui.
* * *
Setelah sholat maghrib, aku mengambil baju kaos favoritku dan
mengenakannya, kemudian kupadukan dengan celana jeans. Setelah yakin
penampilanku sempurna, aku berjalan keluar kamar dan menulis memo yang disertai
nilai tes agamaku.
Latihan ngaji bareng teman-teman di dekat
lapangan komplek sebelah. Pulangnya jam 9-an.
Rei
Tak lama kemudian, aku menerima SMS yang berisi ancaman dari Afdal. Ia
akan meninggalkanku jika aku tak datang dalam waktu 5 menit. Tanpa berpikir
panjang, aku segera mengambil kunci motor dan bergegas menuju rumah Adnan. Toh,
aku bisa memarkirnya di rumah Adnan, pikirku.
* * *
Aku meleleh melihat tatapan matanya yang begitu lembut mengarah
padaku. Matanya yang bulat membuatku terpukau. Belum pernah aku melihat mata
yang begitu memukau.
“Heh, kita disini buat ngaji. Bukan bengong”
Afdal menjentikkan jarinya di depan mataku.
“Iya, iya. Aku juga tau” jawabku sinis.
“Kamu juga sih, Niz….” timpal Adnan.
“Aku salah apa emang?” jawabku tak kalah.
“Ya ampun, masih nggak mau ngaku lagi. Eh, Rei
dari kita nyampe kan kamu ngeliatin Syafa terus” Aan ikutan nimbrung.
“Cieee…..” timpal mereka kemudian.
Jadi namanya Syafa…. Nama yang indah, sama
seperti matanya.
“Nggak, kok. Aku lagi merhatiin Ustadz Ridho yang
lagi ngobrol sama mamanya Adnan kok” aku membela diri. Aku tak mau ejekan teman-temanku
semakin menjadi-jadi.
“Sudah…sudah…. Ntar kita di marahin lagi” Adnan kembali serius.
Pelajaran tajwid adalah pelajaran utama disini. Cewek itu juga belajar
di tingkat tajwid. Yang artinya, kami akan mengaji bersama. Aku tersenyum dalam
hati. Kami membentuk lingkaran yang pusatnya adalah Ustadz Ridho dan whiteboard yang berisi beberapa hukum
tajwid. Teman-temanku kembali berbuat jahil. Mereka merencanakan agar aku duduk
bersebelahan dengan Syafa.
Awasss aja kalian semua yaa….
“Karena hari ini kamu baru masuk, mungkin bisa
berkenalan dulu. Teman-teman, kita ada teman baru. Namanya….” kata Ustadz Ridho
ramah.
“Nama saya Rei Harfi. Panggil aja Rei” kataku
kemudian.
“Berikutnya, kalian akan menyebutkan nama kalian
secara bergantian. Mungkin bisa dimulai dari kamu, Syafa” kata Ustadz Ridho.
“Namaku Syafa Harniza” katanya sambil tersenyum
dengan lembut. Senyumannya itu mampu
membuatku semakin tertarik padanya.
“Aku Fina Yafidz” kata anak disebelah Syafa.
Semua anak menyebutkan namanya masing-masing secara bergantian.
Setelah acara berkenalan pengajian dimulai dengan surah Al-Fatihah. Kemudian
dilanjutkan dengan membaca ayat Al-Qur’an lengkap dengan tajwidnya.
Sudah pasti aku dan teman-temanku yang paling susah untuk membacanya
dengan sempurna. Terutama aku yang baru masuk hari ini. Namun, Ustadz Ridho
punya cara jitu untukku yang baru masuk. Dengan mudahnya hukum tajwid itu ku
pahami. Selama satu jam aku mendengarkan uraian mengenai hukum bacaan yang
terdapat pada ayat yang kami baca secara bergantian.
“Yak….Cukup untuk hari ini. Untuk mengakhirinya,
mari membaca hamdalah….” kata Ustadz Ridho menutup pengajian kami.
“Alhamdulillahi rabbil alamin” ujar kami
bebarengan dengan Ustadz Ridho.
“Wassalamu alaikum wr.wb.” Ustadz Ridho
mengakhiri.
“Wa’alaikum salam wr.wb.” jawab kami kompak.
Kami mencium tangan Ustadz Ridho dan bergegas pulang. Aku, Adnan, Aan, dan Afdal pulang bersama. Tak kusangka, ternyata Syafa dan Fina juga ikut bersama kami. Dalam perjalanan, kami adu lelucon. Ternyata Syafa dan Fina memiliki selera humor yang sangat tinggi. Kami tak dapat membalas leluconnya.
“Eh Syaf, ada yang mau minta nomer kamu tuh! Tapi
dia malu, Syaff” kata Afdal yang membuatku ingin sekali menonjok wajahnya.
“Ooh…siapaa?” tanya Syafa tersipu malu.
“Aduuuh, Syaf. Yang pasti yang belum punya nomer
kamu lahhh…” Adnan menghebohkan suasana.
“Sorry, yaa. Aku diluan” kata Syafa pamit dan masuk ke sebuah rumah.
Di tengah gelap malam, aku masih dapat melihat wajahnya yang memerah.
Ternyata rumahnya hanya berbeda 1 blok denganku. Hanya saja ia adalah
anak yang pendiam. Hidupnya hanya berlaku sekolah, les, dan ngaji. Aku tau itu
semua dari teman-temanku.
Hari ini berakhir dengan bahagia….
* * *
Hari ini aku merasa sangat senang. Akhirnya aku berhasil mendapatkan
nomor handphone Syafa dari Adnan. Aku
senang bukan kepalang. Aku mencoba mengiriminya pesan singkat.
|
Hari ini ngaji nggak?
by. Rei
|
Berawal dari pesan singkat itulah aku semakin dekat dengannya. Setiap
hari kami saling mengirim pesan. Saling menanyakan kabar, atau hanya sekedar say hello. Aku semakin rajin datang
ngaji. Ilmu tajwid pun dapat aku serap dengan mudahnya. Aku tertantang untuk
melebihi kemampuan Syafa.
Belakangan Syafa jarang membalas pesan singkat yang aku kirimkan.
Meski dibalas, isinya biasanya bernada tak suka. Aku mencoba menanyakannya pada
teman-temanku. Mereka juga tak tau.
Ada
apa ya?
Suatu tanya yang hanya Syafa yang dapat
menjawabnya.
* * *
Hari ini aku datang mengaji seperti biasanya. Namun, ada yang tak biasa di rumah Ustadz Ridho. Malam Minggu ini, Afdal tidak datang karena ada acara keluarga. Aan punya jadwal kontrol gigi dengan dokternya. Sedangkan Adnan demam dan istirahat di rumah. Sedangkan Fina tak ada kabar. Yang menjadi masakah buat aku adalah mereka tak mengabari bahwa mereka nggak ngaji hari ini. Aku mengetahui itu semua dari Syafa.
Pengajian hari ini terasa sangat cepat bagiku. Bagaimana tidak, pulang ngaji biasanya kami jalan rame-rame. Hari ini aku hanya akan jalan BERDUA? Dengan Syafa pula.
“Hey, Rei. Kok diem aja?” tanya Syafa dengan gaya khasnya yang riang, tak seperti di pesan singkatnya.
“Ah,
nggak papa kok. Sepi aja” jawabku terbata-bata.
“Ooh,
kirain kamu marah Rei” kata Syafa yang membuatku kaget.
“Marah
kenapa?” tanyaku bingung.
“Marah
karena teman-teman kamu nggak datang ngaji mungkin” jawabnya singkat.
“Oo,
kalo itu sih pasti. Liat aja mereka besok” ancamku yang membuat Syafa tertawa
terbahak-bahak.
“Kamu
sekolah dimana?” tanyaku.
“Sama
kayak kamu. Kita satu skolah, kok” jawabnya enteng.
“Kok
aku nggak pernah liat kamu?” tanyaku bingung.
“Iya,
aku kan kelas I-1. Kelas kamu II-1. Itu kan ujung ke ujung” jawabnya.
“Oh iya….” gumamku.
Obrolan kami semakin seru. Sampai pada akhirnya Syafa berpamitan untuk pulang.
“Aku diluan ya” katanya.
“Okkeh. Besok kamu ngaji nggak?” tanyaku.
Sekilas aku melihat ekspresi sedih melintas di wajahnya yang diterangi oleh rembulan. Namun, hanya sesaat. Wajah ceria kembali terpancar.
“Iya…” jawabnya singkat lalu meninggalkanku
* * *
Hari favoritku tiba. I love Sunday. Pagi ini aku bangun pukul 8.00. Kegiatan ku pagi ini adalah maen bola dengan sahabatku. Adnan juga sudah sehat dan berjanji akan ikut bermain.
Sebelum pergi bermain bola, aku memeriksa kotak surat. Ada banyak sekali surat disana. Aku mengambil semuanya dan membawanya masuk. Aku melihat surat asuransi, tagihan kartu kredit, dan surat lainnya.
Aku berniat menaruh semuanya di ruang keluarga. Jadi, orangtuaku bisa melihatnya saat mereka terbangun. Saat melemparnya ke meja, surat dengan amplop berwarna pink cerah mendarat tak sempurna dan jatuh.
Aku mengambilnya dan tak melihat ada nama pengirim disana. Juga untuk siapa. Akhirnya, aku membuka amplop itu. Dan sontak itu membuatku sedih.
|
Hai, Rei.
Kalo surat ini udah kamu baca, itu artinya kita
udah nggak bisa ketemu lagi. Ayah aku di pindah bosnya ke Balikpapan.
Otomatis, aku juga ikut pindah.
Kamu tau, nggak? Kamu itu orangnya baiiik
banget. Aku tertarik sama kamu. Belakangan aku nggak nanggepin kamu karena
aku tau, aku nggak lama di Makassar.
Sebenarnya tadi malam aku mau ngasih tau
kamu, tapi aku nggak tega. Surat ini aku masukin ke kotak sebelum aku ke
bandara. Jadi, aku udah nggak ada di rumah sekarang.
Makasih kamu udah jadi teman baik aku.
Syafa Harniza
|
Surat ini dari Syafa…
Aku terpaku dengan surat di tangan ku. Surat yang
di tulis sendiri oleh Syafa. Surat yang ia masukkan sendiri ke kotak depan
rumah ku. Surat yang seketika membuatku sedih. Aku menyimpan surat dari Syafa
di laci meja belajar ku. Tak ada waktu untuk mengejar Syafa di bandara.
Aku memutuskan untuk tetap bermain bola di
lapangan. Afdal, Adnan, dan Aan pasti sudah menungguku. Aku bermain dengan
sangat kasar. Aku menendang bola sekeras-kerasnya. Melampiaskan semuanya. Tak
ada lagi yang dapat aku lakukan. Syafa sudah pergi. But, live must go on….
* * *
haha.......
BalasHapus